20081209

sejarah kota salatiga


SEJARAH KOTA SALATIGA


a. Babad Demak

Sumber sejarah yang berhubungan dengan Salatiga adalah Babad Demak, yang disajikan dalam bentuk tembang (Asmaradana dan Kinanti). Di abawah ini akan disadur Babad Demak I yang sudah dialih bahasakan oleh Suwaji. Pada Bab XXXVI (Asmaradana) dan Bab XXXVII (Kinanti) diuraikan sebagai berikut.
Adipati Semarang. Ki Ageng Pandanaran terkenal dengan kayanya, tetapi keinginannya menumpuk harta tiada habis-habisnya. Mengerti akan sifat Ki Ageng Pandanaran itu Sunan Kalijaga bermaksud akan mencobanya. Ia menyamar sebagai penual rumput alang-alang. Di dalam ikatan rumput dimasukanlah uang 25 peser. Ia membawanya ke pasar dan bertemu dengan Ki Pandanaran. Rumput itu di beli oleh Ki pandanaran dan Sunan Kalijaga mengantarnya sampai ke rumah dan terus pulang. Sepeninggal Sunan Kalijaga tahulah Ki Pandanaran bahwa ada uang 25 peser dalam ikatan rumput itu. Ki Pandanaran merasa beruntng karena membeli rumput tanpa kehilangan uang.
Esoknya penjual rumput datang lagi membawa rumput ke rumah Ki Pandanaran. Heran Ki Pandanaran karena rumahnya di gunun yang jauh, Jabalkat. Uang yang kemarin tertinggal dikembalikannya pada penjual rumput. Setelah menerimanya, penjual rumput meminta sesuatu menurut kerelaan Ki Pandanaran. Di berilah uang sepeser oleh Ki Pandanaran, tetapi ia menolak. Ia tidak meminya harta benda, tetapi yang diminta adalah buni bedug semarang. Mendengar itu Ki Pandangaran marah karena harga bedug itu mahal. Walaupun dimarahi penjual rumpu berusaha menyadarkan Ki Pandanaran bahwa tidak sepantasnya orang dapat ditunggangi oleh harta. Harta akhirnya akan mempersulit jalan menuju surga. Diaktakan pula sekali mengayunkan cangkul di surga, orang dapat memperoleh segumpal emas. Maka penjual rumput itu membuktikan ucapannya, setelah terbukti Ki Pandanaran tertegun dan dengan takut ia kemudian menggandeng penjual rumput itu ke rumahnya. Setelah minta maaf, ia menyatakan ingin berguru kepada penjual rumput. Penjual rumput mengizinkannya dengan beberapa syarat, yaitu : beriman, mengislamkan orang Semarang, membuat langgar beserta bedugnya, berzakat denga kerelaan hati, dan jika benar-benar ingin berguru, ia supaya menyusul penjual rumput ke Jabalkat. Pada waktu itulah penjual rumput berterus terang bahwa ia sebenarnya dalah Syeikh Meleya atau Sunan Kalijaga.
Dengan berpakaian serba putih, Ki Pandanaran beserta istri tertuanya berangkat. Dengan sembunyi-sembunyi istrinya menyimpan permata-permata di dalam tongkatnya walaupun sudah di larang oleh suaminya. Di tengah-tengah hutan mereka bertemu tiga orang penjahat yang kemudian merampas tongkat istri Ki Pandanaran. Seorang penjahat yang lain, Sambangdalan namanya, datang menyusul Ki Pandanaran. Tongkat Ki Pandanaran direbutnya, tetapi karena tidak ada isinya tongkat itu dikembalikan lagi, karena belum mendapatkan apa-apa, Sambangdalan mendesak Ki Pandanaran memberinya barang yang lain. Yang diminta adalah permata tetapi Ki Pandanaran tidak memberinya karena tidak membawa. Karena tidak percaya Sambangdalan dikutuk menjadi domba dan seketika itu juga wujudnya berubah berubah menjadi domba. Sambangdalan pun menangis menyusul Ki Pandanaran. Sampai di Jabalkat, Ki Pandanaran langsung mendaki Gunung Jabalkat. Didapatinya sebuah padasan yang tidak berair dan masjid kecil. Sambangdalan mendapat tugas mengisi padasan itu siang dan malam, sehingga ia tidak pernah tidur karena padasan tadi tidak pernah dapat dipenuhuinya. Pekerjaan itu dilakukannya demi wujudnya kembali. Di hadapan Sunan Kalijaga ia menyerahkan nasibnya. Ia dianjurkan untuk bertaubat dan mamohon kepulihan dirinya kepada Tuhan. Singkatnya, ia kembali kewujud semula.
Ki Pandanaran telah menjadi orang Islam dan namanya diganti menjadi Pangeran Bayat. Ia diperbolehkan mendirikan perguruan dan diminta oleh Sunan Kalijaga supaya menjaga masjid kecil yang konon berasal dari Mekah. Sambangdalan akhirnya menjadi sahabat Pangeran Bayat dan namanya diganti menjadi Syeh Domba.
Beradsarkan uraian di atas, rupanya Salatiga diambil dari peristiwa penyamunan terhadap istri Pandanaran. Rupanya babad ini mucul setelah Salatiga menjadi sebuah desa yang cukup besar.


b. Prasasti Plumpungan dan Hari jadi Kota Salatiga

1. Lokasi dan Kondisi Fisik
Prasasti Plumpungan terletak di bagian utara Kota Salatiga, kurang lebih 1.5 km dari pusat kota. Tepatnya di Dukuh Plumpungan, desa Kauman Kidul, kec. Sidorejo, Salatiga, Jawa Tengah.
Termasuk jenis Caila Prasasti, artinya prasasti yang ditulis di atas batu. Beratnya kurang lebih 20 ton, di tatah dalam petakn segiempat bergaris ganda dengan menjorok ke dalam dan luar pada setiap sudutnya. Panjang petak segiempat 78 cm dan lebar 60 cm, serta bergaris lingkar 5 m.
Hingga sekarang prasasti Plumpungan telah dilindugi sebagai benda bersejarah. Melalui Pemerintah Daerah setempat prasasti Plumpungan dibuatkan rumah joglo yang beratapkan seng dan dipagari secara rapi.


2. Isi Prasasti Plumpungan
Berikut ini adalah isi Prasasti Plumpungan yang telah ditransliterasi ke bahasa Indonesia asalah sebagai berikut :
A. Arti kalimat
Semoga bahagia! Selamatlah rakyat sekalian! Tahun saka telah berjalan 672/4/31 pada hari jum’at.
Tengah hari.
Dari beliau demi agama untuk kebaktian kepada Yang Maha Tinggi, telah menganugrahkan sebidang tanah atau taman agar dapat memberikan kebahagiaan kepada mereka.
Yaitu desa Hampra yang terletak di wilayah Trigramyama dengan persetujuan dari Siddhadewi berupa daerah bebas pajak dan perdikan, dan
Ditetapkan dengan tulisan aksara atau prasasti yang ditulis menggunakan ujung mempelam.
Dari beliau yang bernama Bhanu dengan bangunan suci atau candi ini, selalu menemukan hidup abadi.
B. Arti kata pada gambar
1. resi
2. pranayama
3. tidak terbaca
4. jiwanmukta
5. kaya-samskara

No comments: